Minggu, 08 Juni 2014

STRATEGI KOMUNIKASI BISNIS MULTINASIONAL


STRATEGI KOMUNIKASI BISNIS MULTINASIONAL
Komunikasi adalah kunci utama, perekat inti bagi kemajuan perusahaan multinasional. Dengan keterampilan berkomunikasi yang tepat, perusahaan dapat tumbuh terus tanpa henti, menjadi suatu legenda. Buku ini adalah kitab penting, kompas yang dibutuhkan oleh setiap pimpinan perusahaan, pemegang saham, dan semua pihak yang menginginkan perusahaannya berkembang secara optimal.
Tiga perusahaan multinasional yang dikupas dalam buku ini adalah PT Unilever Indonesia Tbk (Eropa), PT Kao Indonesia (Jepang) dan PT Johnsons & Sons (Amerika). Meskipun membahas tiga perusahaan multinasional di Indonesia, prinsip- prinsip komunikasi yang terkandung dalam buku ini aplikatif untuk semua jenis perusahaan. Jadi memahami dan menerapkan teknik komunikasi yang tepat memungkinkan perusahaan berkembang menjadi perusahaan yang terus bertumbuh secara berkesinambungan.
Para Profesor, pakar dan praktisi di bidang ilmu komunikasi yang memberikan endorsement dalam buku ini sudah memberi legitimasi yang lebih dari cukup bahwa buku ini layak menjadi buku wajib perusahaan multinasional.
Perusahaan multinasional dikatakan dapat bertahan jika dapat melalui berbagai permasalahan yang muncul sehubungan dengan kegiatan bisnisnya di Indonesia. Maka, perusahaan memerlukan strategi komunikasi yang tepat dengan pemerintah, masyarakat dan secara internal di dalam perusahaan itu sendiri.
Komunikasi adalah peristiwa nyata yang terjadi dalam kehidupan kita sehari- hari. Melalui buku ini, Dr Dorien Kartikawangi membawa kita pada suatu perjalanan mendalam tentang dunia komunikasi. Berbagai istilah berbahasa Inggris dan analisis yang mendalam dalam buku ini menjadi mudah dicerna berkat gaya penulisan akademis dalam kerangka bahasa populer.
Sang penulis adalah peminat sejati ilmu komunikasi. Hal ini terbukti dari konsistensinya mengikuti pendidikan S-1, S-2, dan S-3 di bidang studi komunikasi. Membaca tujuh bab dalam buku ini akan memberikan pencerahan terhadap strategi komunikasi yang dapat Anda terapkan di perusahaan Anda.
Buku ini sesungguhnya akan jauh lebih mudah dicerna bila dilengkapi dengan ilustrasi dan kesimpulan atau ringkasan. Bagaimanapun juga, penulisan yang sistematis dan komprehensif membuat buku ini enak dibaca.
Di bab enam, penulis memaparkan kunci sukses perusahaan dalam membangun komunikasi dengan pemerintah. Pemahaman bersama, yang merupakan hakekat dari konvergensi. Hal ini ditandai oleh penajaman kesatuan dan kesamaan arah antara perusahaan dengan pemerintah. Konvergensi utama terletak pada pemahaman peraturan yang diberlakukan serta negosiasi dalam penyusunan peraturan baru. Alhasil, komunikasi bermuara pada dua hal, yakni mengurangi ketidakpastian dan menciptakan pemahaman bersama.
Di bab tujuh, dibahas tentang kunci sukses relasi dengan masyarakat. Terdapat berbagai cara, baik melalui program CSR (Corporate Social Responsibility), undian berhadiah, iklan, maupun berbagai cara kreatif lainnya. Kegiatan komunikasi ini pada akhirnya membangun citra positif perusahaan di mata masyarakat.
Bab penutup berisi inspirasi untuk para manajer. Sangat membuka wawasan ke arah perubahan dan perkembangan strategi komunikasi perusahaan ke arah yang lebih baik. Dr Dorien Kartikawangi telah membuktikan pengabdiannya di Perguruan Tinggi dengan melahirkan maha karya ini. Hasil penelitian ilmiah yang memerlukan dana besar dan konsentrasi tinggi terbukti tidak berakhir di rak sunyi perpustakaan kampus, melainkan menyeruak di tengah masyarakat dan perusahaan: menjadi lentera dalam kegelapan. 

SUMBER : http://ekonomi.kompasiana.com/manajemen/2014/04/15/tema-fantasi-strategi-komunikasi-bisnis-perusahaan-multinasional-649221.html

Etika Komunikasi Bisnis Lintas Budaya

Etika Komunikasi Bisnis Lintas Budaya


Etika Komunikasi Bisnis Lintas Budaya
Permasalahan utama dalam komunikasi bisnis dalam era global adalah kesulitan-kesulitan untuk memahami etika komunikasi yang harus dihadapi para pebisnis yang terlibat, yang diakibatkan perbedaan dalam ekspektasi budaya masing-masing pebisnis. Sebagai contoh pada seorang pramugari dalam sebuah maskapai penerbangan Amerika akan mengambil roda minuman. Sebuah tas secara parsial menghalangi gang, dan ia menggunakan kakinya untukmenggeserkan secara pelan agar masuk kebawah tempat duduk. Tindakannya yang lugu itu membuat seorang pria korea marah yang tasnya ia geser tadi. Baginya, tindakan itu seperti meludah ke tasnya. Pramugari itu menenangkannya, terutama karena ia tak mengerti mengapa tindakannya tadi membuatnya gusar (Bosrock, 2007:35)
Etika adalah standar-standar moral yang mengatur perilaku kita: bagaimana kita bertindak dan mengharapkan orang lain bertindak (Verderber, 1978:313).
Bangsa-bangsa berlainan mendefinisikan konsep-konsep kebenaran, rasionalitas, objektivitas, kesopanan, penghinaan, kebebasan, tanggung jawab atau kebohongan secara berlainan pula. Berbagai aspek etika komunikasi bisnis, seperti bagaimana kita memanggil nama, berkenalan, menyapa, berjanji, melakukan presentasi, melakukan negosiasi, melakukan kontrak, semua itu terikat budaya. Jadi tidak ada etika komunikasi bisnis yang universal. Bahkan cara bertukar kartu nama saja dapat memberikan indikasi bagi pebisnis Jepang apakah mitra komunikasinya layak dijadikan mitra bisnis atau tidak.
Kerumitan Etika Bahasa Verbal
Perbedaan-perbedaan budaya antar suatu masyarakat dengan masyarakat lain jelas memperumit penilaian atas etika komunikasi.
“Hai wakarimashita” atau “Ya, saya mengerti”. Di Jepang, bagi seseorang untuk mengakui bahwa ia tidak dapat melaksanakan suatu pekerjaan atau standar berarti  kehilangan muka yang menyakitkan. Etika berbicara bervariasi dalam konteks bisnis. Banyak berbicara dan kurang berbicara
Etika berbicara, seperti dikemukakan oleh Lewis (1996) bervariasi dalam konteks bisnis. Misalnya, umumnya orang Jerman dan orang Swedia adalah pendengar yang baik. Namun tidak demikian halnya orang Italia dan Spanyol; mereka malah sering memotong pembicaraan dengan bahasa tubuh dan isyarat tangan yang hidup dan terkesan berlebihan . di Jepang dan di Finlandia, diam adalah suatu bagian integraldalam percakapan; jeda dianggap sebagai istirahat, ramah, dan pantas. Karena itu orang Jepang tidak menyukai orang Amerika yang argumentatif, sementara orang Amerika sulit memahami orang Jepang yang pendiam.
Kesulitan bisa muncul saat kita pertama kali bertemu dengan calon mitra bisnis, bagaimana kita harus menyapanya, menggunakan gelarnya untuk menghormatinya atau memanggil nama pertama supaya cepat akrab. Di Amerika atau di Australia, anda bisa langsung memanggil nama pertamanya kepada mitra bisnis anda yang baru, tetapi jangan coba melakukan itu di Jerman dan di Italia. Di kedua negara itu, mereka yang punya gelar khususnya, biasa dipanggil “Tuan Profesor,” “Tuan Pengacara,” “ atau sekadar “Herr Schneider” di Jerman atau ”Senor Baggio” di Italia. Juga di China,, mereka yang punya jabatan tinggi dipanggil berdasarkan jabatan meereka, misalnya “Presiden” atau “Manajer”. Dalam konteks bisnis, di Amerika seorang penjual lazim berbicara langsung ke tujuan ketika mendatangi pelanggan, sementara dalam negosiasi, eksekutifnya meminimalkan basa-basi dan protokol.
Kerumitan Etika Bahasa Nonverbal
Bahasa nonverbal seperti sikap tubuh, gerak-gerik, sentuhan, ekspresi wajah, senyuman, kontak mata, nada suara, diam, pakaian, penggunaan ruang, konsep waktu, pengendalaian emosi yang dianut suatu kelompok budaya juga sangat rumit dan berbeda dari suatu budaya ke budaya lainnya.
Menggunakan tangan kiri tidak sopan di Indonesia, ketika menunjuk, menerima atau memberikan sesuatu, sedangkan di Barat hal itu biasa saja. Mencium tangan wanita yang bukan mahram merupakan kelaziman di Barat, namun bagi kaum muslim hal ini bahkan merupakan pelanggaran. Di beberapa bagian di Bulgaria dan di Yunani, mengangguk berarti tidak, sedangkan di beberapa bagian di India selatan, menggelengkan kepala berarti ya. Isyarat OK di Amerika berarti pria homo seksual di Malta. Isyarat genggaman tangan kedua tangan di atas kepala dimaksudkan sebagai persahabatan internasional saat Premier Sovyet Khrushchev datang ke AS tahun 1960-an, namun ditafsirkan orang Amerika sebagai arogansi.
Pesan nonverbal yang paling bermakna adalah ekspresi wajah, khususnya pandangan mata. Para ahli fisiologi memperkirakan bahwa wajah manusia  dapat menghasilkan 20.000 ekspresi. Seorang peneliti mencatat 7777 ekspresi berbeda dalam penelitian atas perilaku di sebuah ruang kelas (Taylor et al., 1992:26).  Menatap mata atasan di Indonesia bisa menjadi masalah karena perilaku itu dianggap tidak sopan, sementara di Barat menatap mata lawan bicara, termasuk atasan, justru diharapkan karena itu menggambarkan kejujuran.
Penggunaan ruang dan waktu juga berbeda secara budaya. Dalam konteks bisnis, di Jerman ruang bersifat “sakral” dan sangat privat. Di sebuah perusahaan Jerman setiap manajer mempunyai ruangan pribadi dengan satu pintu yang selalu tertutup. Di AS di mana privasi juga penting, tetapi tak sepenting di Jerman hanya manajer utama yang punya ruang kantor yang privat.
Busana adalah aspek nonverbal yang juga penting diperhatikan. Apa yang disebut busana yang normal sering terikat oleh budaya. Para pebisnis lazim mengenakan busana lengkap, termasuk jas dan dasi, untuk menunjukkan bonafiditas. Namun tidak semua pebisnis seperti itu.
Perbedaan Orientasi dan Nilai Budaya
Proses komunikasi dalam negosisasi antarbudaya yang terjadi jelas lebih rumit daripada dalam negoisasi dengan orang-orang yang berbudaya sama.
Perbedaaan-perbedaan dalam orientasi nilai budaya juga dapat menimbulkan kesalahpahaman dalam berbagai perilaku dan presentasi bisnis.
pentingnya mempelajari etika komunikasi bisnis lintas budaya yang melibatkan komunikasi tatap muka.
Membangun komunikasi kesehatan di Indonesia
Persepsi manusia adalah inti komunikasi. Komunikasi yang efektif memiliki kemungkinan pasien untuk sembuh dari penyakit. Keadaan sakit harus dikonstruksi secara sosial. Definisi konstruksi sosial sebagai hubungan timbal balik simbolik antara kesadaran diri sendiri dan kesadaran orang lain.
Salah satu upaya untuk meningkatkan pelayanan dokter kepada masyarakat adalah dengan meningkatkan keterampilan komunikasi mereka. Suatu kebiasaan dokter yang merusak adalah keengganan mereka untuk mendengarkan pasien. Dalam suatu penelitian di Barat ditemukan bahwa hanya dalam 23 % kasus pasien punya kesempatan menuntaskan penjelasanny. Dalam 69 % kunjungan pasien, dokter melakukan interupsi, mengarahkan pasien kepada penyakit tertentu. Lebih dari itu, secara rata-rata dokter memotong pembicaraan setelah pasien mereka berbicara hanya 18 detik (Taylor, 1999:275) di Indonesia kemungkinan besar dokter lebih mendominasi lagi pembicaraan dengan pasien, karena masyarakat indonesia paternalistik.
Komunikasi kesehatan juga dipengaruhi oleh kepercayaan, nilai, dan bahasa (verbal dan nonverbal). Komunikasi antara dokter dan pasien juga mencakup komunikasi nonverbal. Salah satu aspek komunikasi nonverbal yang penting adalah sentuhan. Riset dalam komunikasi kesehatan menunjukkan bahwa kebutuhan pasien akan sentuhan tidak dipenuhi oleh profesional medis ( kreps dan Thornton, 1992:33)  Isyarat tangan merupakan salah satu komunikasi nonverbal. penataan ruang bersifat simbolik dan mempengaruhi hubungan dokter dan pasien. 

sumber : http://deantriyan.blogspot.com/2012/05/etika-komunikasi-bisnis-lintas-budaya.html

PERKEMBANGAN BISNIS DI INDONESIA

PERKEMBANGAN BISNIS INDONESIA … 



Krisis ekonomi tahun 1998 telah menghancurkan sendi-sendi perekonomian Indonesia. Segala sektor dari yang besar sampai sektor terkecilpun terkena imbasnya dan terancam kelangsungan hidup usahanya, bahkan para investor asing berduyun-duyun ‘lari’ mencabut bisnisnya di Indonesia.
Akibatnya terjadi banyak pengangguran di mana-mana.
Pemilu 1999 memberikan harapan baru bagi dunia bisnis di Indonesia. Iklim usaha di Indonesia berangsur-angsur pulih. Hal ini juga tidak terlepas karena stabilitas negara yang membaik sehingga gairah investasi muncul kembali. Tatanan perekonomian kembali stabil meskipun kurs rupiah sudah sangat turun dibandingkan sebelum terjadinya krisis. Daya beli masyarakat meningkat lagi dan bisnis-bisnis baru banyak bermunculan.
Di awal millennium ke-21 ini, bisnis di Indonesia tumbuh dengan pesat. Banyak pelaku-pelaku bisnis baru bermain di berbagai segmen pasar konsumen. Paling banyak sektor yang berkembang secara dominan adalah sektor telekomunikasi dan waralaba (franchise).
Sektor telekomunikasi bisa berkembang pesat karena kemajuan teknologi global khususnya di bidang handphone dan internet.
Bidang internet juga menunjukkan grafik kemajuan pesat. Banyak orang kini dalam berbisnis tidak bisa terpisahkan dengan dunia internet bahkan bidang usahanya adalah di dalam dunia maya internet. Hal ini otomatis memberikan peluang bisnis bagi pebisnis untuk berusaha diantaranya dalam jasa warnet.

Sektor lain yang berkembang pesat adalah sektor bisnis waralaba. Maraknya bisnis seperti ini dikarenakan masyarakat yang mempunyai dana ingin berusaha tetapi tidak susah-susah memulai dari nol. Berbisnis dengan cara ini dianggap lebih mudah dan menguntungkan.
Bisnis lain yang berkembang pesat pada periode 1999-2008 adalah bisnis properti terutama di kota-kota besar. Bisnis properti ini juga merambah kalangan menengah ke bawah yaitu bisnis perumahan.dan pendirian kios-kios murah. Masyarakat menengah ke bawah juga diberi kesempatan agar mampu mengembangkan usaha bisnisnya. Namun meliahat kenyataan yang ada di lapangan, bisnis-bisnis itu sebagian besar masih dikuasai pelaku lama. Pelaku baru memang ada, tetapi kuantitas bisnisnya cenderung stagnan.
Di dalam dunia usaha di Indonesia, jenis yang paling banyak digiatkan masyarakat adalah usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Hal ini terbukti dari seluruh unit usaha di Indonesia yang mencapai 45,7 juta unit usaha (2006), 98% masyarakat bergerak dalam sektor UMKM. Sektor yang paling banyak dilirik adalah jenis usaha berdagang di pasar, warung kaki lima, usaha kerajinan dan produksi barang dalam skala kecil s.d. menengah.



sumber: http://kombis-fararirurero.blogspot.com/2012/05/perkembangan-bisnis-indonesia.html

Komunikasi Teknik Negosiasi

Studi Kasus


Komunikasi Teknik Negosiasi
Sebagai mana kita sering mendengar negosiasi diartikan sebagai proses yang melibatkan upaya sese-orang untuk merubah atau tidak merubah sikap dan perilaku orang lain. Sedangkan pengertian yang lebih terinci menunjukkan bahwa negosiasi merupakan proses untuk mencapai kesepakatan yang menyangkut kepen-tingan timabal balik dari pihak-pihak dengan sikap, sudut pandang, dan kepentingan-kepentingan yang ber-beda satu sama lain. Negosiasi, baik yang dilakukan oleh seorang pribadi dengan pribadi lainnya, maupun negosiasi antara kelompok dengan kelompok (atau antar pemerintah), senantiasa melibatkan pihak-pihak yang memiliki latar belakang berbeda dalam hal wawasan, cara berpikir, corak perasaan, sikap dan pola perilaku, serta kepentingan dan nilai-nilai yang dianut. Pada hakikatnya negosiasi perlu dilihat dari konteks antar budaya dari pihak yang mela-kukan negosiasi, dalam artian perlu komunikasi lisan, kesedian untuk memahami latar belakng, pola pemi-kiran, dan karakteristik masing-masing, serta kemudian berusaha untuk saling menyesuaikan diri.
Agar dalam berkomunikasi lebih efektif dan mengena sasaran dalam negosiasi bisnis harus dilak-sanakan dengan melalui beberapa tahap yakni:

1.   Fact-finding, mencari/mengumpulkan fakta-fakta.data yang berhubungan dengan kegiatan bisnis lawan sebe-lum melakukan negosiasi.
2.   Planning / rencana, sebelum berne-gosiasi/berbicara susunlah dalam garis besar pesan yang hendak disampaikan. Berdasarkan kerangka topik yang hendak dibicarakan rincilah hasil yang diharapkan akan teraih. Berdasarkan pengenalan anda terhadap lawan tersebut, per-kirakan/bayangkan kemung-kinan reaksi penerima pesan/lawan berbicara terhadap apa yang anda katakan.
3.     Penyampaian, lakukan negosiasi/ sampaikan pesan dalam bahasa lawan/sipenerima. Usahakan gunakan istilah khas yang bisa dipakai oleh lawan negosiasi kita. Pilihlah kata-kata yang mencer-minkan citra yang spesifik dan nyata. Hindari timbulnya makna ganda terhadap kata yang disam-paikan.
4.   Umpan balik, negosiator harus menguasai bahasa tubuh pihak lawan. Dengarkan baik-baik reaksi lawan bicara. Amati isyarat prilaku mereka seperti: angkat bahu, geleng–geleng kepala, mencibir, mengaggguk setuju. Umpan balik dapat untuk mengetahui samakah makna yang disampaikan dengan yang ditangkap lawan negosiasi bisnis kita.
5.    Evaluasi, perlu untuk menilai apakah tujuan berkomunikasi/ negosiasi sudah tercapai, apakah perlu diadakan lagi, atau perlu menggunakan cara-cara untuk mencapai hasil yang lebih baik.

Meskipun pesan yang disam-paikan dapat diterima dengan baik, bukan berarti hasil yang diharapkan akan diperoleh sesuai dengan yang direncanakan semula. Yang sering terjadi justeru perbedaan pandangan terhadap cara penyelesaian masalah antara pemberi dan penerima pesan. Sehingga diperlukan pembicaraan lebih lanjut, yang memerlukan perjua-ngan tersendiri bagi pengirim pesan dalam menyampaikan dan memenang-kan pendapatnya.
Kalau terjadi adu pendapat antara negosiator dengan pihak lawan maka timbul dorongan untuk menang. Keinginan untuk menang disatu sisi dengan mengabaikan kekalahan dipi-hak lainnya, biasanya sulit tercapai. Untuk itu digunakan strategi menang-menang. Artinya ada sebagian keinginan kita yang dikorbankan dengan mengharapkan pihak lawan juga akan mengorbankan hal yang sama, sehing-ga kesepakatan diantara kedua belah pihak dapat tercapai.

Disini ilustrasi komunikasi dalam Negosiasi bisnis dengan mengambil kasus negosiasi dengan orang Jepang. Kontak permulaan merupakan fase yang sangat penting guna membangun hubungan personal yang berkelanjutan. Kontak permulaan lewat korespodensi, faksimile atau telepon dianggap sebagai cara yang kurang efektif atau tepat. Kebanyakan perusahaan Jepang menanggapi dengan lamban, bahkan seringkali tanpa respon. Hal ini terjadai pertama kerana hambatan bahasa dan komu-nikasi terutama untuk perusahaan-perusahaan kecil dan menengah yang tidak terbiasa membuat kontak lang-sung dengan perusahaan asing. Kedua, surat menyurat tidak memberi infor-masi yang cukup. Tanpa informasi yang cukup, kontak dagang sulit dilakukan dan negosiasi mengalami kegagalan. Hal kecil yang tidak bisa disepelekan dalam kontak permulaan adalah kebiasaan menukar kartu nama. Orang Jepang sangat sulit menghapal ejaan asing, kerana itu kartu nama merupakan arsip penting yang selalu disimpan dengan cermat. Tanpa kartu nama orang Jepang akan sulit meng-hubungi calon rekannya. Orang Jepang dalam negosiasi tidak langsung pada persoalan. Selalu diawali dengan soal-soal yang tidak relevansinya dengan bisnis. Misalnya, membica-rakan lukisan yang tergantung di tembok, atau berbasa-basi tentang urusan keluarga. Orang Jepang selalu mengatakan ya segala hal yang dikemukakan lawan bicaranya. Tetapi jangan salah mengerti, ya bukan berarti iya saya setuju untuk transaksi, melainkan ya saya faham apa yang anda sampaikan.
Apa yang dilukiskan di atas dengan contoh kasus pada masyarakat Jepang bukan hanya termasuk bagian komunikasi lisan, tetapi sudah meru-pakan bagian utama dari teknik nego-siasi bisnis.
Pertanyaan:
1.     Mengapa Negosiasi Bisnis sulit dilakukan dengan pihak asing yang berbeda budaya?
2.     Bagaimana solusi yang terbaik untuk melakukan negosiasi Bisnis dengan pihak asing yang mempunyai budaya yang berbeda?
3.     Bila anda harus bernegosiasi Bisnis dengan orang Arab pendekatan seperti apakah yang akan anda lakukan? Coba sebutkan beberapa ciri dari budaya orang Arab. Apakah perbedaanya dengan orang Jepang sepeti contoh kasus diatas?
4.     Apakah pentingnya melakukan negosiasi Bisnis?
5.     Coba jelaskan tahapan dalam melakukan Negosiasi Bisnis. Jelaskan setiap tahapannya
Kesimpulan
Negosiasi terjadi apabila dian-tara pihak-pihak yang secara terbuka bersedia mengemukakan gagasan-gagasannya. Tidak tertutup kemung-kinan bahwa masing-masing pihak yang melakukan negosiasi memiliki Hidden Agenda. Yang dimaksud dengan Hidden Agenda adalah gagasan tersembunyi atau niat terselubung yang diungkapkan secara eksplisit dalam negosiasi akan tetapi meru-pakan hal yang sesungguhnya ingin dicapai oleh pihak yang bersangkutan. Adanya hidden agenda pada umumnya dapat dikenali kerana sifatnya yang menghambat proses negosiasi, sehingga proses kearah kesepakatan sangat sulit atau bahkan hampir tidak pernah tercapai.
Bila diduga bahwa proses negosiasi terhambat kerana adanya hiden agenda dari salah satu maupun kedua belah pihak, lobying dapat dipilih untuk menggali hiden agenda yang ada sehingga proses negosiasi dapat dimulai kembali dari gagasan-gagasan yang lebih terbuka.
Daftar Pustaka
Oemi Abd Rachman,”Dasar-dasar Public Relations”, Alumni, Bandung, 1986.
Bernays, Edward L, “Public Relations”, University of Oklahoma Press, Norman, 1982.
Burhan Bugin, ”Metodologi Penelitian Kualitatif”, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2001.
Bastaman, ”Makalah Untuk Kursus Pendidikan Diplomat”, Deplu R.I, Jakarta, 1987.
Lexy J. Moleong,”Metodologi Penelitian Kualitatif”, Remaja RosdaKarya, Bandung, 2001.

sumber : http://kombisku.blogspot.com/2012/12/studi-kasus.html

PROSES KOMUNIKASI BISNIS DALAM PERUSAHAAN



Proses Komunikasi
Proses komunikasi diawali oleh sumber (source) baik individu ataupun kelompok yang berusaha berkomunikasi dengan individu atau kelompok lain, sebagai berikut:
1. Langkah pertama yang dilakukan sumber adalah ideation yaitu penciptaan satu gagasan atau pemilihan seperangkat informasi untuk dikomunikasikan. Ideation ini merupakan landasan bagi suatu pesan yang akan disampaikan.
2. Langkah kedua dalam penciptaan suatu pesan adalah encoding, yaitu sumber menerjemahkan informasi atau gagasan dalam wujud kata-kaya, tanda-tanda atau lambang-lambang yang disengaja untuk menyampaikan informasi dan diharapkan mempunyai efek terhadap orang lain.
3. Langkah ketiga dalam proses komunikasi adalah penyampaian pesan yang telah disandi (encode). Sumber menyampaikan pesan kepada penerima dengan cara berbicara, menulis, menggambar ataupun melalui suatu tindakan tertentu. Pada langkah ketiga ini, kita mengenal istilah channel atau saluran, yaitu alat-alat untuk menyampaikan suatu pesan. Saluran untuk komunikasi lisan adalah komunikasi tatap muka, radio dan telepon. Sedangkan saluran untuk komunikasi tertulis meliputi setiap materi yang tertulis ataupun sebuah media yang dapat mereproduksi kata-kata tertulis seperti: televisi, kaset, video atau OHP (overheadprojector). Sumber berusaha untuk mebebaskan saluran komunikasi dari gangguan ataupun hambatan, sehingga pesan dapat sampai kepada penerima seperti yang dikehendaki.
4. Langkah keempat , perhatian dialihkan kepada penerima pesan. Jika pesan itu bersifat lisan, maka penerima perlu menjadi seorang pendengar yang baik, karena jika penerima tidak mendengar, pesan tersebut akan hilang. Dalam proses ini, penerima melakukan decoding, yaitu memberikan penafsiran interpretasi terhadap pesan yang disampaikan kepadanya. Pemahaman (understanding) merupakan kunci untuk melakukan decoding dan hanya terjadi dalam pikiran penerima. Akhirnya penerimalah yang akan menentukan bagaimana memahami suatu pesan dan bagaimana pula memberikan respons terhadap pesan tersebut.
5. Proses terakhir dalam proses komunikasi adalah feedback atau umpan balik yang memungkinkan sumber mempertimbangkan kembali pesan yang telah disampaikannya kepada penerima. Respons atau umpan balik dari penerima terhadap pesan yang disampaikan sumber dapat berwujud kata-kata ataupun tindakan-tindakan tertentu. Penerima bisa mengabaikan pesan tersebut ataupun menyimpannya. Umpan balik inilah yang dapat dijadikan landasan untuk mengevaluasi efektivitas komunikasi.
KOMUNIKASI INTERNAL
Pertukaran gagasan di antara para administrator dan karyawan dalam suatu perusahaan, dalam struktur lengkap yang khas disertai pertukaran gagasan secara horisontal dan vertikal di dalam perusahaan, sehingga pekerjaan dapat berjalan.
Berikut terdapat empat Dimensi Komunikasi Organisasi :
1. Downward communication Yaitu komunikasi yang berlangsung ketika orang-orang yang berada pada tataran manajemen mengirimkan pesan kepada bawahannya. Fungsi arus komunikasi dari atas ke bawah ini adalah: a) Pemberian atau penyimpanan instruksi kerja (job instruction) b) Penjelasan dari pimpinan tentang mengapa suatu tugas perlu untuk dilaksanakan (job retionnale) c) Penyampaian informasi mengenai peraturan-peraturan yang berlaku (procedures and practices) d) Pemberian motivasi kepada karyawan untuk bekerja lebih baik.
Ada 4 metode dalam penyampaian informasi kepada para pegawai menurut Level (1972): 1. Metode tulisan 2. Metode lisan 3. Metode tulisan diikuti lisan 4. Metode lisan diikuti tulisan
2. Upward communication Yaitu komunikasi yang terjadi ketika bawahan (subordinate) mengirim pesan kepada atasannya. Fungsi arus komunikasi dari bawah ke atas ini adalah: a) Penyampaian informai tentang pekerjaan pekerjaan ataupun tugas yang sudah dilaksanakan b) Penyampaian informasi tentang persoalan-persoalan pekerjaan ataupun tugas yang tidak dapat diselesaikan oleh bawahan c) Penyampaian saran-saran perbaikan dari bawahan d) Penyampaian keluhan dari bawahan tentang dirinya sendiri maupun pekerjaannya.
Komunikasi ke atas menjadi terlalu rumit dan menyita waktu dan mungkin hanya segelintir kecil manajer organisasi yang mengetahui bagaimana cara memperoleh informasi dari bawah. Sharma (1979) mengemukakan 4 alasan mengapa komunikasi ke atas terlihat amat sulit: 1. Kecenderungan bagi pegawai untuk menyembunyikan pikiran mereka 2. Perasaan bahwa atasan mereka tidak tertarik kepada masalah yang dialami pegawai 3. Kurangnya penghargaan bagi komunikasi ke atas yang dilakukan pegawai 4. Perasaan bahwa atasan tidak dapat dihubungi dan tidak tanggap pada apa yang disampaikan pegawai
3. Horizontal communication Yaitu komunikasi yang berlangsung di antara para karyawan ataupun bagian yang memiliki kedudukan yang setara. Fungsi arus komunikasi horisontal ini adalah: a) Memperbaiki koordinasi tugas b) Upaya pemecahan masalah c) Saling berbagi informasi d) Upaya pemecahan konflik e) Membina hubungan melalui kegiatan bersama
4. Interline communication Yaitu tindak komunikasi untuk berbagi informasi melewati batas-batas fungsional. Spesialis staf biasanya paling aktif dalam komunikasi lintas-saluran ini karena biasanya tanggung jawab mereka berhubungan dengan jabatan fungsional. Karena terdapat banyak komunikasi lintas-saluran yang dilakukan spesialis staf dan orang-orang lainnya yang perlu berhubungan dalam rantai-rantai perintah lain, diperlukan kebijakan organisasi untuk membimbing komunikasi lintas-saluran.
Ada dua kondisi yang harus dipenuhi dalam menggunakan komunikasi lintas-saluran: 1. Setiap pegawai yang ingin berkomunikasi melintas saluran harus meminta izin terlebih dahulu dari atasannya langsung 2. Setiap pegawai yang terlibat dalam komunikasi lintas-saluran harus memberitahukan hasil komunikasinya kepada atasannya.

sumber : http://wennyocto.wordpress.com/2011/05/28/proses-komunikasi-bisnis-dalam-perusahaan/

7 rahasia komunikasi dalam bahasa inggris

Tujuh Rahasia Komunikasi Bisnis dalam Bahasa Inggris

Apakah Anda tahu bagaimana caranya diperhatikan di tempat kerja? Komunikasi adalah salah satu keterampilan penting di tempat kerja, namun kesukesesan bukan hanya tergantung pada apa yang Anda katakan, namun bagaimana Anda mengatkannya.
1. Bersikaplah profesional. Terlihat profesional adalah langkah pertama untuk bisa bersikap profesional, orang akan lebih serius menanggapi Anda jika penampilan Anda baik. Ini juga berlaku untuk sikap tubuh, jadi tataplah mata orang yang Anda ajak bicara dan juga jagalah postur tubuh Anda, jika tidak Anda akan terlihat kurang percaya diri.
2. Menjalin hubungan dengan lebih pribadi. Ingatlah nama orang dan mereka akan mengingat Anda. Sebisa mungkin hindari memanggil seseorang dengan sebutan "Dear Sir/Madam". Ingatlah bahwa melakukan berbisnis adalah membangun hubungan.
3. Bersikaplah formal, tapi bukan kepada staf Anda. Jika Anda bersikap terlalu formal, maka orang tidak akan bisa bersikap nyaman disekitar Anda. Bersikap terlalu santai juga akan membuat orang lain tidak menganggap Anda dengan serus. Yang terbaik adalah tepat berada di tengah.
4. Berbicaralah dengan jelas dan ringkas. Langsunglah ke akar permasalahan dengan segera dan tidak usah berputar-putar dengan kata-kata, jangan menganggap bahwa orang yang Anda ajak bicara tahu Anda dan mengapa Anda menghubungi mereka - mereka mungkin perlu diingatkan latar belakang permasalahannya.
5. Membalas surat dengan cepat. Beritahu bahwa Anda telah menerima email penting atau telepon, dan jika Anda pergi lebih lama dari sehari, beritahu mereka bahwa Anda akan berada di luar kantor.
6. Bersikap tenang. Dalam pekerjaan apapun, situasi sulit akan muncul. Kehilangan temperamen tidak akan membantu Anda, bahkan akan memperumit keadaan. Tunjukkan bahwa Anda dapat mengatasi ketegangan, dan orang lain akan melihatnya dan membari Anda tanggung jawab yang lebih besar di masa yang akan datang,
7. Tetap diam dan dengarkan! Komunikasi adalah dua arah. Dengarkan pendapat orang lain, jangan menyela saat orang lain bicara, dan jangan abaikan kritik. Kita semua pernah berbuat salah dan rekan kerja kita sering memiliki saran yang baik. Juga, orang akan lebih senang mendengarkan Anda jika mereka lihat Anda juga mendengarkan mereka!



sumber : http://www.ef.co.id/englishfirst/english-learning/tipsbelajar/rahasia-komunikasi-bisnis.aspx